Minggu, 05 Januari 2020

HILDA DE WINDT AYOUBI - Papiamento bahasa manisku





PAPIAMENTO BAHASA MANISKU

Bukan tatabahasa yang terbesar,
Bukan kamus yang tertebal,
Bukan juga ejaan terindah,
Yang bisa berkilau dalam hatiku

Adalah sendok makanan pertama kalinya
Sejak hari pertama aku belajar duduk,
Ketika ibuku menyuapiku

Tak ada sesuatu di dunia yang pernah mau ku tukar

Dengan Papiamento manisku, bahasaku,
Yang ingin ku sombongkan ke semuanya,
Begitu berharganya dia untukku,
Begitu tersayangnya dia untukku.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
05-01-2020








MIJN DUSHI PAPIAMENTU

Noch de dikste grammatica,
Noch het dikste woordenboek,
Noch de mooiste orthografie,
Kan zo in mijn hart schitteren

Het is mijn eerste lepel voedsel
Vanaf de eerste dag dat ik heb leren zitten,
Toen mijn moeder het mij voerde

Ik wil het voor niets ter wereld wisselen

Met mijn dushi Papiamentu, mijn taal,
Daar wil ik overal mee bluffen,
Zo genegen is zij mij,
Zo geliefd is zij mij.




Lukisan diri sendiri



MI DUSHI PAPIAMENTU

Ni e gramátika di mas diki,
Ni e dikshonario di mas diki,
Ni e ortografia di mas bunita,
Mes tantu den mi kurason por bria

Ta mi promé kuchara di kuminda
For di e promé dua ku m’a siña sinta,
Ora mi mamai a dunami e na boka

Ku pa nada na mundu lo mi ke troka

Ku mi dushi Papiamentu, mi idioma,
Ta kuné tur kaminda mi ta broma,
Ta asina tantu kariño mi tin p’e,
Asina tantu amor mi ta sinti p’e.



Geef me je taal - dat ik je beter versta / Duna mi bo idioma - pa mi por komprondé bo mihó
Penerbit: In de Knipscheer, kota Haarlem, 2019
Photo penyair: © Studio Tramm
Photo sampul buku: Mexicaans tall ship: HdWA
Desain sampul buku: Anders Kilian





Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl



ALBERT HAGENAARS - Borobudur





BOROBUDUR

I

Mendekat dari sudut yang telah diperhitungkan. Hanya
ada getar di antara kita berdua, pantulan layar segi tiga,
mengelepak dalam angin kering,
gosokan pada suatu dasar dari waktu ke waktu.

Pasir gurun mengersak dalam remasan lensa tua.
Beberapa derajat lagi dan kemudian sang gunung semesta
tergenang, bagai teratai candinya mengambang
pada pantulan kehendak dan benda.

Aku berpaling. Di Baie d’Avranches yang mengapi
sang ayah-yang-penyair meratapi puterinya yang karam
Abad-abad berputar memenuh diri dalam dukacita kita.
Kala itu aku anak muda dan tak melawan.



II

Para dewa bangkit bersama negara dan akhirnya runtuh.
Sekali lagi kita mendaki melewati singa-singa.
Musim-musim penghujan membasuh darah kita dari tangga,
di atas aras paling rendah; aras iri dengki, nafsu dan kematian.

Tangan putih menggagapi abu mencari puisi yang terbenam:
pohon buahan, gajah, para hakim, perempuan mungil
memegang tombak, dan menyentuh dawai-dawai retas, cintaku
kepadamu. Bahana tajam kekaguman, dan ketakpahaman.

Di puncak kurangkul dia, kuangkat, kunaikkan.
Kami ketawa, saling cocok. Gaunnya meninggalkanku telanjang.
Aku mesti jadi ayahmu, mengelus segalanya rapi kembali.
Negara bangkit bersama dewa, yang memicu keruntuhannya.



III

Kuelus urat-urat darah kitab renta ini, madu
terpancur dari stupa, menutupi nama dan rupa,
kenangan akan suatu kehilangan. Yang tak bisa membaca
pergi mendaki berputar dan mencari tempatnya.

Ingatkah kau malam terakhir itu di kamar kosong kita
yang sesak aroma dupamu, bagaimana kita menyimak
para lalat? Aku mesti menemanimu pergi ke klinik,
tapi kau menjerit, menghunjamkan tombakmu menusukku.

Di angin pagi yang lemah ini cakap terhenti,
niat meluka meraja dalam secercah senyum
yang di banyak percintaan silam terpahatkan
dari sesuatu yang hampa arti.



Terjemahan: © Landung Simatupang
2010







BOROBUDUR

I

Naderend vanuit de berekende hoek. Even
een trilling tussen ons, een spiegeling van drie-
kantige zeilen, klapperend in de droge wind,
het schuren van een bodem over de tijd.

Woestijnzand knarst in de oeroude lens.
Nog enkele graden; dan staat de kosmische berg
onder water en drijft haar tempel als een lotus
op de spiegeling van wil en materie.

Ik draai. Aan de brandende baai van Avranches
huilt de dichtervader om zijn verdronken dochter.
Eeuwen wentelden hun volheid in ons verdriet.
Ik was een jonge man en bevocht het niet.



II

Goden kwamen met staten op en gingen ten onder.
Opnieuw klimmen we langs de leeuwen omhoog.
De moessons spoelden ons bloed van de trappen,
over het laagste terras; dat van naijver, lust en dood.

Een blanke hand tast in de as naar verzakte strofen:
fruitbomen, olifanten, rechters, een kleine vrouw
met een speer, en raakt aan gebroken snaren, mijn liefde
voor jou. Harde klanken van bewondering, en onbegrip.

Boven neem ik haar in m’n armen, til haar op.
We lachen, worden elkaar. Haar rok laat me bloot.
Ik moest je vader zijn en strijk alles weer glad.
Staten komen met goden op, gaan eraan ten onder.



III

Ik streel de aders van dit brekend boek, honing
vloeit uit de stupa en bedekt naam en vorm,
herinnering aan gemis. Wie niet kan lezen
gaat stijgend rond, zoekt zijn plaats.

Weet je al, die laatste nacht in onze lege kamer,
stinkend van jouw wierook, hoe we luisterden
naar de muskieten? Ik zou meegaan naar de kliniek,
maar je schreeuwde, je stak je speer in mij.

In deze broze ochtendwind eindigt het
spreken, heerst wrok in een glimlach,
vele liefdes geleden gebeiteld uit wat
van geen enkel belang mocht zijn.






BOROBUDUR

I

Approaching from the calculated angle. Just
a quiver between us, a reflection of tri-
angular sails, fluttering in the arid wind,
the scraping of a bottom over time.

Desert sand scrunches in the ancient lens.
A couple more degrees and then the cosmic mountain
is submerged, her temple drifting like a lotus
on the reflection of will and matter.

I turn. At the burning bay of Avranches
the poet-father weeps for his drowned daughter.
Centuries revolved their fulness in our grief.
I was a young man and did not resist.



II

Gods rose with states and eventually declined
Once more we clamber upwards past the lions.
The monsoons washed our blood off the stairs,
over the lowest terrace; that of envy, lust and death.

A white hand feels in the ashes for subsided verses:
fruit trees, elephants, judges, a small woman
with a spear, and touches broken strings, my love
for you. Harsh sounds of admiration, and incomprehension.

On top I take her in my arms, lift her up.
We laugh, become each other. Her frock leaves me naked.
I had to be your father and stroke everything smooth again.
States rise with gods, who trigger their decline.



III

I caress the veins of this breaking book, honey
flows out the stupa, covering name and form,
remembrance of a loss. Who cannot read
goes climbing round and seeks his place.

Do you recall that last night in our empty room
that stank of your incense, how we listened
to the flies? I was to go with you to the clinic,
but you screamed, you stuck your spear in me.

In this frail morning wind the speaking
ceases, spite rules in a smile,
many loves ago chiselled out of what
was devoid of any meaning.



Terjemahan: © John Irons
2003




Tropendrift / Tropical Drift
Penerbit: In de Knipscheer, Haarlem, 2003
Photo penyair: Siti Wahyuningsih
Desain sampul buku: Anders Kilian




www.alberthagenaars.nl


Senin, 30 Desember 2019

PETER VAN DE GRAAF - Gerak gelombang




GERAK GELOMBANG

Melalui sungai kami mencari batu yang licin dan pipih.
“Dan yang ini, ayah?” Kamu menimbang dan mengira-ngira,
membaca air dengan satu mata yang hampir tertutup.
“Ini bisa, jagoanku”, kamu sembari mengangguk. “Ini bisa.”
Kamu lempar batu itu dan dia akan terpantul enam atau tujuh kali
di permukaan air sebelum dia tenggelam terkubur dalam sungai.
Kemarin, ketika kami mengucapkan perpisahan,
aku menimbang dan mengira-ngira kamu, tanpa sepengetahuanmu.
Kamu pergi, aku melihat bagaimana kamu meninggalkan jalan
setapak dari gelombang yang tak terhitung. Aku lama melihatmu
dengan satu mata yang hampir tertutup.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-12-2019








KRINGEN

Langs de beek zoeken we gladde, platte stenen.
“En deze, papa?” Je weegt en wikt. Leest het water
met één oog een beetje dicht. “Dit wordt ’m, jongen”,
knik je me toe. “Dit wordt ’m”. In een zijdelingse
scheervlucht laat je de steen wel zes of zeven keer op
het water ketsen voordat hij zich een zeemansgraf
delft in de beek.
Gisteren, bij het afscheid, woog en wikte ik je
-onmerkbaar. Toen je wegliep, zag ik hoe je een pad
van ontelbare kringen achterliet. Ik keek je lang na
met één oog een beetje dicht.



Daarzegger
Penerbit: ONZ Vormtaal, kota Bergen op Zoom, 2019
Photo penyair: © Albert Hagenaars
Photo sampul buku: Ria van de Graaf
Desain sampul buku: Ria van de Graaf





Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl



THEO MONKHORST - Seorang pelarian, masuk ke dalam rumahku




*

Seorang pelarian, masuk ke dalam rumahku
ceritakan kisahmu, duduklah di kursiku
makanlah rotiku dan minumlah airku
beristirahatlah antara dinding dari tubuhku,
tetapi jangan sentuh perkataanku
jangan datang dalam hatiku, aku tak memberi kehidupan,
aku hanya pemancing kata dalam sungai-sungai dari tragedi.
Jendela-jendela ini telah melihat generasi-generasi sebelum kamu,
air mengalir dalam selokan dari sejarah.
Jendela-jendela itu cerminmu.

Ketenangan dalam rumahku, aku ingin kamu punya pengharapan
yang aku tidak bisa memberikannya,
aku hanyalah pemancing
yang hanya bisa menangkapmu dalam kata-kata.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-12-2019








*

Vluchteling kom binnen in mijn huis
vertel mij uw verhaal, zit in mijn stoel
eet mijn brood en drink mijn water
rust tussen de muren van mijn lijf,
maar raak niet aan mijn woorden
betreed niet mijn hart, ik schenk geen leven,
ben slechts woordenvisser in rivieren van tragiek.
Deze ramen zagen generaties voor u, stromend
water door de goot van de geschiedenis.
Zij zijn uw spiegelbeeld.

Rust in mijn huis, ik wens u hoop
die ik niet geven kan,
ik ben niet meer dan visser
die u alleen in woorden vangen kan.



Huis huid
Penerbit: In de Knipscheer, kota Haarlem, 2019
Photo penyair: Piet Gispen, 2019
Gambar sampul buku: Didier van de Steene
Desain sampul buku: Anders Kilian





Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl



Selasa, 24 Desember 2019

CÉCILE EVERS - Berita cuaca




BERITA CUACA

cuaca mengetuk pintu
dan bertanya padaku
apa yang akan terjadi

aku menjawab:
menjadi sekali lagi,
cuaca seperti yang dulu

walaupun apa yang kumau,
tak mungkin,
kata cuaca itu

dan aku tak akan pernah
menjadi seperti yang dulu,
dikarenakan oleh dirimu



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
24-12-2019








WEERBERICHT

het weer klopte aan
en vroeg me
wat het worden zou

ik antwoordde:
word één keer weer
het weer van vroeger

al wilde ik,
het kan niet,
zei het weer

en dat ik nooit meer
het weer van vroeger
word, ligt aan jou



Verzen van de Veluwe
Penerbit: Bunner Boekerij, 2019
Photo penyair: © Cécile Evers (selfie), 2019





Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl



Jumat, 29 November 2019

ANTON KORTEWEG - Perjalanan di Midden-Delfland




PERJALANAN DI MIDDEN-DELFLAND

‘Pertanian adalah kesabaranku,
pertemanan adalah hidupku,
semua apa yang kumiliki,
adalah pemberian dari Tuhan’,
telah kubaca di daerah kota Abtswoude.

Aku mengangguk menyetujui
tetapi kemudian harus tetap berpikir
tentang masa lalu mesin pemotong rumput
dan suaranya yang tak teratur,
aneh jika kita tak mendengarnya lagi,
meskipun tidak di kawasan Abtswoude,
dan tentang suara lipatan yang terdengar
saat ketika terletak dalam gudang.

Kemudian tiba-tiba aku berpikir
betapa beruntungnya kehidupanku,
lepas dari mesin pemotong rumput itu:

Aku belum berumur tujuh puluh tahun
dan sekarang sudah punya cukup waktu
untuk masih bisa sedikit melakukan
hal yang terburuk setiap tahunnya.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
27-10-2019








WANDELING IN MIDDEN-DELFLAND

‘De landbouw is mijn lust,
de vriendschap is mijn leven,
alles wat ik bezit,
is mij door God gegeven’,
las ik in de buurt van Abtswoude.

Ik knikte instemmend maar
moest vervolgens toch denken
aan wijlen de grasmaaimachine
en zijn onregelmatig geneuzel,
dat je dat nergens meer hoort,
zelfs niet in de buurt van Abtswoude,
en aan de knik die hij maakte,
zette je hem in het schuurtje.

Wat later viel mij nog in
hoe goed ik het had getroffen,
die grasmaaier daargelaten:

nog niet eens zeventig
en nu al volop tijd
om wat ik nog een beetje kan
ieder jaar slechter te kunnen.



Nooit eens lekker nergens - Autotopische bloemlezing
Penerbit: Meulenhoff, Amsterdam, 2019
Photo penyair: © Albert Hagenaars, 2019
Desain sampul buku: Zeno





Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl



Rabu, 30 Oktober 2019

ALJA SPAAN - Masih ingatkah bagaimana




MASIH INGATKAH BAGAIMANA

Lagi aku telah bersimpuh di depannya dan lagi
dia bertanya-tanya apakah yang aku lakukan dan walaupun

dia tidak mau menolak, itu tak mungkin, dia telah menghilang
lewat pintu samping, dan masih terdengar suara langkahnya,

dan tetap hangat seperti biasanya, tangannya, yang tak hanya
membelai rambutku atau hanya sebentar menopang di pundakku

seperti tepukan yang tertangguhkan, jari-jarinya tak mengunci
di leherku tetapi hanya kekuatan gerakan pinggangnya,

wajah tidak lama lagi berkerinyit oleh rasa sakit yang tak begitu
aku mengerti atau bagaimana kematian dipadukan pada yang sama,

aku, disana, membungkuk, dia hanya berpikir pada bagaimana
dengan santun bisa menjelaskan keterlambatannya

pada seorang wanita yang kebetulan tak bisa lagi
lebar membuka mulutnya.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-10-2019








WEET JE NOG HOE

Opnieuw lag ik op mijn knieën en voor hem en weer
vroeg hij zich af wat ik deed en hoewel hij zich

niet zou verzetten, hoe kon hij ook, hij was verdwenen
door de zijdeur, voetstappen holden nog na,

en even warm was als altijd, zijn hand alleen niet door
mijn haren of even op de schouders als een

uitgestelde klop, zijn vinger niet hakend in mijn hals en
nergens meer de kracht dan uit zijn lendenen,

het gezicht niet langer de grimas van pijn die ik nooit zo
begreep of hoe dood aan hetzelfde gekoppeld werd,

ik, daar, zo nederig gebukt, dacht hij alleen aan hoe hij
met goed fatsoen zijn oponthoud zou

kunnen verklaren aan de eerste belanghebbende partij die
toevallig niet meer zo ver haar mond openen kon.



Tegen het vergeten en voor de behoedzaamheid
Penerbit: In de Knipscheer, kota Haarlem, 2018
Photo penyair: Wouter van der Hoeven
Photo sampul buku: Alja Spaan
Desain sampul buku: Anders Kilian




Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl