Minggu, 29 Maret 2015

BARNEY AGERBEEK - Tak goyang memegang





Puisi ini terinspirasi atas potret lukisan Affandi karya Kartika, putri dari Affandi


TAK GOYANG MEMEGANG

Kanvas
yang menanti muka Papi

Sudut pandangnya berputar
sampai kuhentikan
Kusimakkan mukanya
Berdiam diri dia, dan memandang
Sebagainana hanya dia
Berdiam diri dan memandang
Selama dia tak gegang

Tawanya menelanjangi giginya terakhir
Sinaran terak rapuh berbinar
di matanya
Terbayang bintik-bintik baru
Dia memandangi aku
tanpa melihat kelemahan

Kerinduan menyentuhnya
Kalau dia diam begitu dan memandang
tiada yang harus ditakuti
Seringai hilanglah semua
Kubuka mataku
Bernapas lagi dengan bebas

Puluhan tahun dia jembatani
Di pasir kaki kami membuat gambar-gambar
Kadang dalam kesunyian, kadang dengan kata yang pesat
Dalam cahaya rasa gembira mendenyutkan dada
Tabrakan pikiran kini tak terhalang

Jempolku menggosokkan warna hitam
Kugambar garis yang menyertai kelahiranku
Putih bersih dengan ayunya berayun atas kanvas
Aku memegang mukanya

Tak goyang memegang
Begitulah namaya ingin kujelmakan
Bagi diri aku, saudaraku serta pengamat semuanya



Terjemahan: © Hein Steinhauer
15-03-2015





Potret Affandi dibuat oleh Kartika Affandi, 2003


HOUDEN ZO

Het doek
waarop Papi moet verschijnen

Het perspectief roteert
tot ik het stop zet
Zijn gezicht lezen

Hij zwijgt, kijkt,
zoals alleen hij
zwijgt en kijkt
als hij ontspannen is

Hij lacht zijn laatste tand bloot
De glans van broze sintels
in zijn ogen
Het prille spoor van stippen
Hij kijkt me aan
zonder zwaktes te zien

Het verlangen om aan te raken
Als hij zo zwijgt en kijkt
valt er niets te vrezen
Alle grimassen verdwenen

Ik open mijn ogen
en kan vrij ademhalen

Hij overbrugt de jaren
We schilderen met onze voeten in het zand
Soms in stilte, soms met woorden in galop
In het licht klopt blijdschap in mijn borst
Er is ruimte voor botsende gedachten

Ik strijk het zwart uit met mijn duim
Teken lijnen waarmee ik ben geboren
Helderwit danst vederlicht op canvas
Ik hou zijn hoofd in mijn handen

Houden zo
Zo wil ik zijn naam gestalte geven
Voor mijzelf, mijn familie en alle beschouwers



Houden zo (gedicht bij een portret van de schilder Affandi, gemaakt door zijn dochter Kartika), 2015
Photo penyair: © Albert Hagenaars
Photo gambar: © Barney Agerbeek



In 2013 Barney Agerbeek published 'Schaduw van schijn', short stories, and in 2014 'Njai Inem', a novel. In May 2015 'Rood en wit met blauw', a book of poems' will follow. All these titles were published by Uitgeverij In de Knipscheer in Haarlem. 'Tak goyang memegang (Houden zo)' is included in 'Rood en wit met blauw', which also contains a long poem about the life of a njai.




www.alberthagenaars.nl

Minggu, 15 Maret 2015

HERMAN VAN DEN BERGH - Menerawang musik malam





MENERAWANG MUSIK MALAM

Untuk Maurice van Yzer

Rembulan mengayuh terbakar
melewati karangan awan,
dan belantara berwarna ungu:
teracuni.-

Genangan dan jalan setapak hampir tertutup
penuh buah berry yang pedas,
bau menyengat
dan menyebar.

Dataran, rangkaian bunga yang layu
dan bibir mengering;
bintang berjatuhan
layaknya embun.

Sesosok yang memburu sengit:
sekelompok satir;
dan nafas mereka dari abu
terlihat secara kasat mata.

Peri peri, putih layaknya melati
berambut hijau,
melarikan diri,
terengah engah.

Dalam kabut Syrinx
dan antara bibir kita,
lembut dan lincah:
seruling dari Pan.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
15-03-2015







NOCTURNE

Voor Maurice van Yzer

De maan roeit brandend
langs ’t wolkenrif,
en ’t bosch is paars:
vergiftigd.-

Poel en half open pad
vol heete bramen,
fel en rond
in geur.

De vlakte, een fletse ruiker
en de lippen droog;
sterren vallen
als dauw.

Gestalten jagen woest:
saters in horden;
en hun grijze adem
is zichtbaar

Nimfen, bloemwit
met groene haren,
vluchten in ’t bosch,
hijgend.

In den nevel de syrinx
en op onzen mond,
week en dartel:
Pan’s fluit.-



De Boog, 1919 / Verzamelde Gedichten, 1979
Penerbit: Querido, Amsterdam, 1979
Photo penyair: ?
Desain sampul buku: Michael Harvey



www.alberthagenaars.nl

Minggu, 08 Maret 2015

MAARTEN VAN DEN ELZEN - Tugas kecil untuk anak





TUGAS KECIL UNTUK SEORANG ANAK

Nak, warnai luar garis
dari buku gambarmu, warnai dunia
dengan pensil yang tidak bisa patah
dan ulurkan tanganmu ke duniamu
yang adalah diorama besar

semasa kanak kanakku bermimpi
mataku terbuka tentang pepohonan
yang terlihat saling tersenyum dan rumput
yang sabar melambai di bawah angin lembut

kau suka bangkai lalat
terbang lagi atau merangkai
tangkai bunga dengan perekat

jangan kehilangan kata kata
dari melodi pertamamu, jangan biarkan
mata air mengering yang di dalamnya
kamu bisa melihat refleksi karaktermu



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
08-03-2015







KLEINE OPDRACHT VOOR EEN KIND

kind, kleur buiten de lijnen
van je kleurboek, kleur de wereld
met kleurpotloden die niet breken
kunnen en reik mij jouw hand naar
jouw wereld die een grote kijkdoos is

mijn kinderleven door dromen mijn
ogen geopend van bomen die zacht
glimlachen tegen elkaar en gras dat
geduldig wuift onder een dunne wind

jij zou een dode vlieg op poten willen
zetten of stelen van geplukte bloemen
met je plakstift aan elkander lijmen

laat de woorden van je eerst gezongen
lied nooit verloren gaan en de bron
niet opdrogen in wiens spiegeling je
je eigen karakter weerspiegeld zag



Madrigalen voor Maarten
Penerbit: Hoenderbossche Verzen, Uden, 2007
Photo penyair: © Albert Hagenaars, 2008
Desain sampul buku: Genoveef Lukassen



www.alberthagenaars.nl

Minggu, 01 Maret 2015

HANS ANDREUS - Suatu malam





SUATU MALAM

Raga, tenanglah. Kita harus melelapkan diri,
kau dan aku, dijantung malam.
Tidak perlu bimbang. Kau telah banyak kehilangan,
canda tawa, kasih sayang, dan semacam kedamaian
tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita lakukan semuanya sendiri,
mengundang kerugian, badai salju
dan tak tahu kenapa. Atau kita mengetahuinya,
tapi selayaknya seseorang memandang tandus
tanpa melihat sesuatu.
Raga, tidurlah. Malam telah larut.
Esok mulai dengan hari bebatuan.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
01-03-2015







EEN NACHT

Lichaam, wees stil. Wij moeten slapen,
jij en ik, in het hart van de nacht.
Wees niet bang. Je hebt veel verloren,
lachen, liefde, een soort gelukkige rust,
maar wat kunnen wij doen? Wij deden het zelf,
riepen verlies naar ons toe, een sneeuwstorm
en weten niet waarom. Of weten het toch,
maar zoals men nietsziend uitkijkt
over een barre landstreek.
Lichaam, ga slapen. Het is laat.
Morgen begint de dag van de stenen.



Verzamelde Gedichten
Penerbit: Bert Bakker, Amsterdam, 1983 (cetakan pertama)
2004 (cetakan ketujuh)
Photo penyair: Nol Gregoor, 1959
Desain sampul buku: Tessa van der Waals



www.alberthagenaars.nl

Minggu, 22 Februari 2015

PAUL VAN OSTAIJEN - Melopee





MELOPEE

Untuk Gaston Burssens

Di bawah remangnya bulan bergeserlah panjangnya sungai
Di atas panjangnya sungai bergeserlah keletihan bulan
Di bawah remangnya bulan di atas sungai bergeserlah kano ke samudera

Melewati tingginya alang alang
melewati rendahnya padang rumput
bergeserlah kano ke samudera
bergeserlah dengan bulan yang menggeser kano ke samudera
Begitu kebersamaannya menuju ke samudera kano bulan dan lelaki
Kenapa bulan dan lelaki keduanya bergeser tanpa perlawanan ke samudera



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
22-02-2015







MELOPEE

Voor Gaston Burssens

Onder de maan schuift de lange rivier
Over de lange rivier schuift moede de maan
Onder de maan op de lange rivier schuift de kano naar zee

Langs het hoogriet
langs de laagwei
schuift de kano naar zee
schuift met de schuivende maan de kano naar zee
Zo zijn ze gezellen naar zee de kano de maan en de man
Waarom schuiven de maan en de man getweeën gedwee naar de zee



Verzameld werk / Poëzie
Penerbit: Bert Bakker, Amsterdam, 1952 (cetakan pertama)
1979 (cetakan keenam)
Photo penyair: ?
Desain gambar (untuk buku Bezette Stad) 1921: Oscar Jespers
Desain sampul buku: Helmut Salden




www.alberthagenaars.nl

Minggu, 08 Februari 2015

MARIJKE VAN HOOFF - Brussel





BRUSSEL

putraku dan aku, kami berbeda tiga puluh tahun
ketinggiannya memaksa saya mendongak
dia menggandengku
seorang ibu yang sering tersandung harus dijaga
ibu ini tidak tahu pasti jebakan kehidupannya

kita menjadi perhatian
saya merasakan permasalahan masa lalu
apa yang terpikirkan oleh dunia
putraku tak peduli pendapat mereka
kita hanya pasangan sederhana

lama kita hilir mudik melewati lukisan Magritte
dia melakukan sama seperti yang dulu saya lakukan
dia membacakan untukku:

-penting bahwa kita terkesima
tentang kenyataan kita masih bisa terkesima
-

ceci n'est pas mon fils,
ceci c'est mon père



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
08-02-2015







BRUSSEL

mijn zoon en ik wij schelen dertig jaar
zijn lengte dwingt mijn blik omhoog
hij neemt me bij de hand
een struikelmoeder dient beschermd
zij kent haar valkuilen niet echt

er wordt
naar ons gekeken
ik voel oud ongemak
wat denkt de wereld wel
hem deert dat in het geheel niet
wij zijn gewoon een stel

lang dwalen wij langs werken van Magritte
hij doet wat ik van oudsher deed
hij leest mij voor:

-het gaat erom dát men verbaasd is
verbaasd te zijn


ceci n'est pas mon fils,
ceci c'est mon père



Zij die mij bewoont
Penerbit: Kievenaar & Vijn, Heveadorp, 2014
Photo: © Hans Slemmer
Desain sampul buku: Mieke van Dijk




www.alberthagenaars.nl

ALBERT HAGENAARS - Panen ke tiga





PANEN KE TIGA

Untuk tidak menguras dasar tanah
setelah panen kedua disini
padi diganti palawija.

Untuk menyelamatkan cinta pandangan lembut
melalui kata kata yang tidak tersembunyi lagi
bahwa kecurigaan menjalar.

Sampai di taraf terendah dan tertinggi
dari bahasa Jawa kesabaranku dan semangatku
belajar dan janjiku harus teruji

Wanita terbuang atau ratu, kamu memilih
pilihan seorang laki laki tanpa kasta,
tanpa tahta, tanpa kepercayaan yang sungguh.

Kamu akan memohon dan paksa,
kamu akan bersujud dan disembah
kamu akan tahu artinya

hidup diluar lingkaran yang terpercaya
penghujan, kemarau dan panen

di luar hasil rahim.



Terjemahan: © Agung Soemitro
2010







DE DERDE OOGST

Om de bodem niet uit te putten
vervangt men hier na elke tweede oogst
de rijst eenmaal door maïs of bonen,

ter wille van de liefde zachte blikken
door woorden die niet langer verbergen
dat argwaan in lange wortels wroet.

Tot in de laagste en de hoogste vorm
van de Javaanse taal moeten mijn geduld
en leergierigheid en belofte beproefd.

Verstoten vrouw of meesteres, jij verkiest
de keuze van een man zonder kaste,
zonder eer, zonder waar geloof.

Jij zult smeken en gebieden,
jij zult bukken en verheven zijn,
jij zult weten wat het wil zeggen

te leven buiten de vertrouwde krans
van moessons en oogsten,

buiten de opbrengst van je schoot.



THE THIRD HARVEST

So as not to exhaust the soil the rice
after each second harvest is replaced
once by maize or beans,

for the sake of love soft looks
by words that no longer conceal
that suspicion burrows in deep roots.

To the very lowest and the highest form
of the Javanese language my patience and
eagerness to learn and pledge are to be tested.

Repudiated wife or mistress, you prefer
to choose a man without caste,
without honour, without true belief.

You will beg and command,
you will bow down and be exalted,
you will know what it means

to live outside the familiar rotation
of monsoons and harvests

outside the yield of your womb.



Terjemahan: © John Irons
2010




Palawija
Penerbit: Pendopo, Yogyakarta, 2010
Photo penyair: © Siti Wahyuningsih
Desain sampul buku: Yeni Sudibyo




www.alberthagenaars.nl