Puisi Belanda di Bahasa Indonesia (276) - Dutch poetry in Indonesian language (276 poems) - Nederlandse poëzie in het Indonesisch
Sabtu, 01 April 2023
FRANS BUDÉ - Traveler
PELANCONG
Kita berjalan lebih cepat dari bayangan kita,
mengalir menyatu dengan musik sekitar kita.
Aku melihatmu, walaupun kamu terdiam.
Dalam anganku kamu tetap dekat denganku,
meletakkan tanganmu dibahuku dan memelukku
selamanya. Waktu menyertai kita,
mengikat kita. Kita bersembunyi ke dalam musik
untuk tidak tersesat, berbagi ketakutan dan
keceriaan, selalu dalam perjalanan
ke hari yang baru. Di kedalaman waktu,
di balik puncak dari kebahagiaan, terletak
taman-taman di masa lalu, di hadapan kita
terletak kesunyian yang tetap tersembunyi
dalam ladang gersang, angin membawa
sesuatu kesini dari tepi sungai. Biarkan mengatasi
ketakutan kita, menjalin kita dengan indahnya
kehidupan. Musik menarik waktu kembali.
Dengan begitu kita lanjutkan, udara malam
yang dingin menahan nafas, dan lihat,
mekar lagi – sekejab.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
24-03-2023
TRAVELER
We lopen aan eigen schaduw vooruit,
vervloeien met de muziek om ons heen.
Ik zie je, al spreek je geen woord.
In mijn hoofd blijf je dicht bij me, leg je
een hand op mijn schouder en houdt me vast,
een leven lang. De tijd loopt met ons mee,
houdt ons bijeen. We schuilen in muziek
om niet te verdwalen, delen vrees en
vrolijkheid, zijn altijd onderweg
naar een nieuwe dag. In het diepst van de tijd,
achter de hoogste toppen van geluk,
liggen de tuinen van weleer, vóór ons ligt
in uitgestrekte stilte wat verscholen blijft
in braakliggende velden, waait hooguit iets
binnen van de andere oever. Laten we onze angst
bezweren, ons verweven met de volle schoonheid
van het leven. Muziek haalt de tijd terug.
Zo zetten we onze weg voort, de koele
nachtlucht houdt haar adem in, en zie,
het bloesemt weer – heel even.
Zoveel nabijheid
Penerbit: Meulenhoff, Amsterdam 2018
Photo penyair: Riet Dolders
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Jumat, 24 Maret 2023
ALBERT HAGENAARS - Palaran
PALARAN
Pemukul-pemukul mulai, memukul hampir
bersamaan di atas tembaga yang terdoa’kan.
Tangan-tangan memanjang saling mengikuti
di atas lulang yang kencang, bertemu dalam
sebuah irama berabad-abad yang tak bisa terubah.
Penggesek-penggesek memotong
membuka, menarik senar mereka lebih
mendekat, menganyam melodinya sendiri
dengan asal cerita dari kita semua.
Kemudian menjulang pada nada-nada yang
mencari dari seruling-seruling, sampai kedalam
Sansekerta dalam Bahasa Jawa, wanita-wanita tua
yang bernyanyi dengan lengkingan dan mengerti
semua tentang cinta dan kehilangan, pentingnya
dari peraturan dan hukum adat; gadis-gadis remaja
dari tubuhnya mengalami apa artinya mendengarkan.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-01-2023
PALARAN
Hamers vangen aan, slaan vrijwel
simultaan op gezegend brons.
Verlengde handen vallen in op gespannen
vel, vinden elkaar in een al eeuwenlang
niet te veranderen cadans.
Strijkers snijden zich naar binnen,
trekken snaren steeds verder naar zich
toe, vervlechten eigen melodie
met de oorsprong van aller verhaal.
Dan ontstijgen aan zoekende tonen
van fluiten, tot diep in het Sanskriet
in het Javaans, de snerpend zingende
oude vrouwen die weet hebben van liefde
en verlies, het belang van de regels en wetten;
de meisjes die aan den lijve moesten ervaren
wat luisteren is.
PALARAN
Mallets mark the beginning, striking almost
simultaneously on priest blessed bronze.
Extended fingers join in on stretched
skin, finding each other in a centuries old
unalterable cadence.
String-players cut their way in,
pulling strings ever closer towards
themselves, intertwining their own melody
with the origin of all narration.
Then, to the searching tones
of flutes, down to the depths of Sanskrit
in Javanese, rises the shrill singing
of old women, well-versed in love
and loss, the importance of rules and laws;
girls made to feel on their own bodies
what listening involves.
English Translation: John Irons
Pelgrimsgrond
Penerbit: In de Knipscheer, Haarlem 2022
Photo penyair: Siti Wahyuningsih
Photo sampul buku: Lieke Baartmans
Desain sampul buku: Anders Kilian
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Minggu, 29 Januari 2023
EDWIN DE GROOT - Monad
MONAD
dia goyah hampir tak terlihat, meringkik pelan dan jatuh
perlahan tanpa berontak dan waktu dia ditemukan
terdengar suara seperti bom dari vilt yang keras terkoyak
setelah itu melihat dia pergi mati, aku kira aku tak percaya
bahwa Leibniz, waktu dia menulis dengan keyakinan tentang partikel
terkecil yang bisa mengandung semua yang ada di dunia
bahwa dia pernah mengalaminya
mendengar kuda perlahan jatuh tersungkur
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
29-01-2023
MONADE
hij wankelde bijna onzichtbaar, hinnikte zachtjes
en ging zonder verzet naar de grond en toen hij hem vond
klonk een geluid als dat van een bom van noest gewreven vilt
kort nadat ik hem had zien sterven, dacht ik
ik geloof niet dat Leibniz, toen hij overtuigd schreef
over het kleinste deeltje dat alles in de wereld kan bevatten
dat hij dit ooit heeft meegemaakt
het horen van het neergaan van een paard
Neus tegen het glas
Penerbit: In de Knipscheer, Haarlem 2022
Photo penyair: Geart Tigchelaar
Photo sampul buku: Edwin de Groot
Desain sampul buku: Anders Kilian
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Rabu, 28 Desember 2022
ANTOON VAN DEN BRAEMBUSSCHE - Tanganmu
TANGANMU
Mengingat Corona
Tidak pernah sebelumnya tanganmu menterjemahkan
sebegitu kuat kelembutan yang tak terhingga.
Tidak pernah sebelumnya dia berbicara begitu
mengesankan tentang tarikan napas yang terakhir,
tentang kesepian yang paling terakhir.
Tabu akan sentuhan.
Kematian seperti putaran tangan.
Diam-diam sekarat,
dengan cara teledor.
Di dalam ruang husada yang tanpa penjenguk.
Tidak pernah sebelumnya tanganmu
tampak bergerak seperti ini.
Walaupun itu mustahil.
Warisan dari perkamen
yang bergerak di atas kapalan
jiwa kita.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
25-12-2022
JE HAND
Corona indachtig
Niet eerder vertaalde je hand
zozeer je onuitputtelijke tederheid.
Niet eerder sprak zij zozeer
van de laatste ademtocht
De allerlaatste eenzaamheid.
Het taboe van de aanraking.
De dood als handomdraai.
Het stiekem sterven,
onachtzaam.
In een verweesde ziekenzaal.
Niet eerder leek je hand zozeer
te bewegen.
Tegen beter weten in.
Perkamenten erfenis
die beweegt op het eelt
van onze ziel.
De schaduw van Morandi
Penerbit: Uitgeverij P, 2022
Photo penyair: Karin Borghouts
Desain sampul buku: Nama akan dipublikasi
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Jumat, 16 Desember 2022
ROSE VANDEWALLE - Kamu pergi sementara aku memegang tanganmu
*
Kamu pergi sementara aku memegang tanganmu
lebih tentram tidak mungkin, tak ada perubahan
dari dirimu, kecuali kulitmu yang perlahan memudar
tak perlu panik, yang tak terelakkan telah terjadi
tiba-tiba pecah peperangan
kamu tak perlu mengalaminya lagi
kesakitan, kesedihan dan sesudah itu
langsung permasalahan bank, valuta anjlok
tetapi terutama sakit hati
itu datang dengan gelombang yang tak teratur
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
16-12-2022
*
Je vertrok terwijl ik je hand vasthield
vreedzamer kon niet, niets nog aan je verroerde
tenzij je huid die langzaamaan verbleekte
geen paniek, het onvermijdelijke was geschied
meteen brak de oorlog uit
je hoefde het niet meer mee te maken
de pijn, het verdriet en meteen daarop
de bankperikelen, de zakkende valuta
maar bovenal het hartzeer niet
dat komt in ongelijke golven
Langs de Langelaan
Penerbit: Post-Dodopers, kota Eindhoven, 2022
Photo penyair: Albert Hagenaars
Photo sampul buku: Park den Brandt, Antwerpen
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Senin, 31 Oktober 2022
MARGRIET WESTERVAARDER - ceritakan padaku siapa kamu
*
ceritakan padaku siapa kamu
bagaimana semuanya bisa terjadi
apa yang terlihat dengan mata-matamu
ceritakan padaku tentang pedangmu
yang melengkung,
sabelmu, gagangmu
tatapanmu yang tanpa curiga
aku telah merapikan tempat tidur dengan sutra
dengan bisik-bisik dan lembut
dengan birunya malam, motif-motif anemon
kerahasiaan beraroma di atas bantal-bantal
datanglah dan berbaringlah
letakkan kulitmu yang pilu di atas tubuhku
tubuhmu yang kesepian
dan ucapanmu yang menolak
belailah kita dengan sisi-sisi yang tajam
dan pecahkan
apa yang aku bisa pecahkan
air hitam dari pangkuanku
danau yang gelap dimana aku tenggelam
yang kita lama menatap dan mengenalinya
raga dari air di dalam lautan
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
31-10-2022
*
vertel me wie je was
hoe alles kwam
wat al je ogen zagen
vertel me van
het krommen van je zwaard
je sabel, je gevest
je argeloze blik
ik heb het bed bekleed met zij
met fluister en fluweel
met blauwe avond, anemoonmotieven
geheimen geuren in de kussens
kom dan en leg je neer
leg je ontdane huid tegen mij aan
je thuisloos lijf en
je verstoten spreken
streel ons met scherpe randen
en breek
dat ik kan breken
het zwarte water van mijn schoot
het donker meer waarin ik onder dreef
dat wij ons aanzien en herkennen
lichaam van water in de zee
Wiggelied
Penerbit: In de Knipscheer, Haarlem, 2022
Photo penyair: Anja Schuil
Gambar sampul buku: Margriet Westervaarder
Desain sampul buku: Anders Kilian
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Rabu, 07 September 2022
IVO VAN STRIJTEM - Sebuah syair
SEBUAH SYAIR
Lebih baik menghafal diluar kepala
sebuah syair, bait
beberapa baris sajak
untuk membunuh waktu
yang mendorong kamu menjauh
dan mengacam mencekikmu.
Dan di manapun dan selalu
kamu bersinggah
yang tak seorangpun tahu keberadaanmu.
Dan kamu lapar, haus dan kamu
sakit atau telanjang, terbelenggu,
terasing, terlupakan oleh Tuhan.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
05-09-2022
EEN GEDICHT
Je kan maar beter een gedicht
uit het hoofd leren, een strofe
of toch minstens een paar verzen
om de tijd te doden
die je voortstuwt en je
dreigt te wurgen.
En overal en al die tijd
heb je vertoefd
waar niemand je zag zitten.
En je had honger, dorst en je
was ziek of naakt, gevangen
vreemd, van God vergeten.
De Liefde, jazeker
Penerbit: Atlas Contact, Amsterdam, 2014
Photo penyair: Catherine Misselyn
Desain sampul buku: Melle Hammer
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Langganan:
Postingan (Atom)













