Puisi Belanda di Bahasa Indonesia (275) - Dutch poetry in Indonesian language (275 poems) - Nederlandse poëzie in het Indonesisch
Senin, 14 Juni 2021
JO GISEKIN - Waktu
WAKTU
Sementara kita memaksa waktu sampai berhenti dalam peti
kita memperhitungkan perilaku panjangnya tahun-tahun
yang telah terpakai, jam-jam menghilang dari hari-hari dengan cara
lompat jangkit sampai cahaya pemandangan alam retak rusak
kita memperbarui lantai-lantai, rumah-rumah selalu berbau aus
kita menyusun batu demi batu malaise yang tak teramati, tak lagi
menyakiti ingatan pada serpihan-serpihan, kumpulkan kebahagiaan
dalam partitur-partitur, mengambil mereka dari getaran suara,
perlahan meninggikan balok not
di saat makan malam kita menghargai waktu baru dalam batasan
sampai dia membara penuh kenyamanan, kita mendekorasi
momen-momen yang usang dengan ide-ide jenaka, melihat
diri-sendiri ke dalam cermin: kenikmatan yang sementara
tertera di atas peta dari kertas bebas asam.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
12-06-2021
TIJD
Terwijl we tijd in een schrijn tot stilstand dwingen
becijferen we met losse pols de lengte van opgebruikte jaren
intussen lopen uren in hinkstapsprong de dagen uit tot waar
de gloed van het landschap gescheurd uiteen valt
we kalefateren vloeren, huizen ruiken constant naar slijtage
steen op steen stapelen we sluipende malaises, aan scherven
bezeren we onze herinnering niet langer
we verzamelen sprankels geluk in losse partituren ontdoen
ze van bloemige fiorituren, stapvoets gaan we de notenbalk hoog
bij het avondeten koesteren we nieuwe tijd binnen de perken
tot hij troostrijk smeult, versleten uren tuigen we op met schalkse
ideeën we bekijken onszelf in spiegels: tijdelijk genot
ligt uitgestald op de plattegrond van zuurvrij papier.
De luwte van het geheugen, 2021
Penerbit: PoëzieCentrum, kota Gent
Photo penyair: Frederik Hulstaert
Desain sampul buku: Frederik Hulstaert
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Senin, 24 Mei 2021
JAN ENGELMAN - A-Ω
A - Ω
Berkerudung aku tak bisa melihat Mu,
tapi aku merasakan secara alami sampai saatnya
yang suatu kali, di musim semi mungkin
menerimaku dalam kekekalan:
ruang tak terbatas itu, sinar yang tak terhingga
dimana nasib melempar kita;
gambaran pertama itu, puisi pertama itu,
alpha, omega, Tuhan.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
24-05-2021
A - Ω
Gesluierd kan ik u niet zien,
maar tast natuur tot op het uur
dat eens, een voorjaarsdag misschien
mij opneemt in den eeuw’gen duur:
die zee van ruimte, zee van licht
waarin ons nederstort het lot;
dat eerste beeld, dat eerst gedicht,
de alpha, omega, den god.
Verzamelde Gedichten, Amsterdam, 1960
Penerbit: N.V. Em. Querido's Uitgeversmaatschappij
Photo penyair: nama akan mengikuti
Desain sampul buku: nama akan mengikuti
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
JOS VAN DAANEN - Kohesi suci dari air
*
Siapa yang tidur di atas air punya waterbed
siapa yang tidur bermimpi buruk beralun di atas kohesi
siapa yang berjalan di atas air adalah tukang sulap.
Apa yang masih dipertanyakan dari orang suci
adalah bahwa dia tetap berdiri teguh dalam permasalahan
dan sangat mengandalkan perencanaannya.
Orang kita di laut tak bisa berkonsentrasi
kemanapun dia memandang kematian tak terlihat datang
mendekat dan diam-diam plastik yang menyita
seluruh kehidupan, desiran menyita kehampaan
semangat memenuhi tubuh, kohesi
memaksakan dia dengan kecacatan dan kekurangannya.
Dia berdo’a untuk kemakmuran, berdo’a untuk kapal
untuk tangan penyelamat atau untuk cahaya.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
24-05-2021
*
Wie op water slaapt heeft een waterbed
wie kwalijk droomt deint op cohesie
wie op water loopt is een illusionist.
Wat er van een heilige nog gevraagd wordt
is dat hij in zwaar weer overeind blijft
en blind vertrouwt op zijn routeplanner.
Onze man op zee kan zich niet concentreren
waar hij kijkt nadert de onzichtbare dood
en stiekem plastic dat bezit neemt
van alle leven, ruis neemt bezit van leegte
de geest vult zich met lichaam, cohesie
dringt zich aan hem op met gebreken.
Hij bidt om welvaart, bidt om een boot
een uitgestoken hand of om licht.
De heilige cohesie van water
Penerbit: In de Knipscheer, kota Haarlem, 2020
Photo penyair: Jos van Daanen
Desain sampul buku: Jet Westbroek
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Kamis, 15 April 2021
JASPER MIKKERS - Lonceng angin kemerincing
*
Lonceng angin kemerincing
api berkobar dengan warna kemerahan
Sementara aku memandang nyala api, aku bertemu
ratu-ratu, penyihir, pesulap, pertapa dan pemilsafat
Kehidupanku telah lama penuh dengan kerumitan
sewaan rumah, kendarai mobil, bekerja untuk orang lain
Aku memangkas kehidupanku seperti pohon
Disini aku bisa bersemi lagi, di daerah Toreenlahard
hidup layaknya petani dengan banyak puisi
Apa yang ku perbincangkan? Apakah aku menenggak bir?
Yurtku adalah universitasku, mungkin
belajarlah aku sesuatu yang akan pernah bisa kuajarkan
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
11-04-2021
*
De windbel klingelt
met oranje vlammen brandt het vuur
Terwijl ik in de vlammen kijk, ontmoet ik
koninginnen, heksen, tovenaars, kluizenaars en filosofen
Mijn leven was te lange tijd te ingewikkeld
huis huren, auto rijden, werken voor anderen
Ik snoeide mijn leven als een boom
Hier kan ik opnieuw uitbotten, in Toreenlahard
in een boerenbestaan vol poëzie
Waar heb ik het over? Zeker bier gedronken?
Mijn yurt is mijn universiteit, misschien
leer ik iets dat ik ooit kan doorgeven
Vuur in een vaas
Penerbit: Antaeus, kota Tilburg, 2021
Photo penyair: Annemiek van Bakel
Gambar sampul buku: Daisy Karthaus
Desain sampul buku: Daisy Karthaus
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Rabu, 17 Maret 2021
ANNA DE BRUYCKERE - Laut
LAUT
Kapiten tua membuka buku mimpinya.
Dengan mata berbinar aku mengantar segelas teh, tiba-tiba
berbicara tanpa basa-basi tentang lelaki yang merusak akal sehatku
tetapi membiarkanku hidup juga setelah dia meninggalkanku.
Aku menyampaikan ke kapiten sepatah kata yang berarti sedih
yang dia belum pernah mendengarnya.
Dan aku meminjamkan telingaku,
lengan yang siap, untuk semua yang dia katakan
sementara dia membaca. Dia menyanyi, ayunan angin
rendah di atas laut yang tenang dan memaksa,
laut di penuhi dengan musik, laut di penuhi laut -
kadang-kadang laut membiarkan kami berlayar, terbuka namun
kadang-kadang gelombang bergulung menjauh
dari kita, menyibak halaman ke halaman
yang telah terbaca.
Di dasar laut dia menyimpan mimpi-mimpi
yang belum pernah kami terima.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
16-03-2021
ZEE
De oude kapitein haalt zijn dromenboek boven.
Ik breng hem thee en glanzende ogen, spreek onverhoeds
onverhuld over de man die mijn verstand vernielde
maar me deed leven ook nadat hij me verliet.
Ik breng de kapitein een woord voor verdriet
dat hij nog nooit heeft gehoord.
En ik breng hem oren
gekromde armen voor wat hij vertelt
bij zijn papieren. Zijn stem zingt, wiegende windkracht
laag over stillende, dwingende zee
een zee van muziek, een zee van zee -
soms laat ze ons varen, opent ze zich maar
soms rolt ze zich onder onze schepen
vandaan, slaat ze om, bladzijdes
die ze uitgelezen acht.
Op de bodem bewaart ze de dromen
die we nog niet aanvaardden.
Voor permanente bewoning
Penerbit: Cossee BV, Amsterdam, 2020
Photo penyair: Marcel Kentin
Photo sampul buku: Christoph Buchwald
Desain sampul buku: Irwan Droog
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Rabu, 03 Maret 2021
ELS DE GROEN - Sebuah gambar
SEBUAH GAMBAR
Seperti Tuhan telah menggaris
di langit dengan pensil berwarna:
riang dan rapuh
seperti dia menyatukan
kaki demi kaki dengan tintanya
dan menyimpan pena
yang kecil dan halus
untuk sayap-sayapmu,
transparan seperti kaca bermotif
begitulah kamu tergambar.
Tuhan tersenyum
dan menamaimu Capung.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
02-03-2021
EEN TEKENING
Alsof god met kleurpotlood
een streepje in de lucht
trok: vrolijk en fragiel
alsof hij er met inkt
poot voor poot aan vastmaakte
en het fijnste pennetje
bewaarde voor je vleugels
doorzichtig als figuurglas
zo werd je getekend.
God lachte vergenoegd
en noemde je Libelle.
Hebben mollen weet van zonsondergangen?
Penerbit: In de Knipscheer, kota Haarlem, 2020
Photo penyair: Henk de Groen
Desain sampul buku : Anders Kilian
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Jumat, 05 Februari 2021
WILLIE VERHEGGHE - Lomba balap sepeda di Flandria
LOMBA BALAP SEPEDA DI FLANDRIA
Mengenang pada Edgard De Caluwé, pemenang di tahun 1938
*Denderwindeke-Ninove 1913, † Geraardsbergen 1985
Putih dan waspada garis finish menunggu
apa yang akan terjadi: spéktakel yang berabad-abad lamanya
yang mengingatkan akan Roma dan Colosseumnya,
gladiator-gladiator jalanan dengan pakaian berwarna-warni,
tontonan dari kepala-kepala para kaisar
terhiasi dengan hélm baja yang penyok dalam pertempuran.
Disini pemenang merentangkan sayapnya
seperti albatros,saat itu kebisingan menguasai
kota dan desa membungkuk ujung menara
gereja untuk para pembalap yang
dengan paha mereka menunjukkan dari kekuatan dan berotot.
Dan masyarakat menyaksikan dengan tegang
dan berseru menyebut nama-nama idola mereka.
Sepeda-sepeda bersinar lebih kuat dari pada matahari,
peluh-peluh memercik di atas aspal yang tajam
dari perang roda-roda itu dia membumbung tinggi
dan merayakan kemenangan serta ketenaran yang abadi.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
04-02-2021
DE RONDE VAN VLAANDEREN
Denkend aan Edgard De Caluwé, winnaar in 1938
*Denderwindeke-Ninove 1913, †Geraardsbergen 1985
Wit en waakzaam wacht de eindmeet op
wat komen gaat: een eeuwenoud spektakel
dat aan Rome en zijn Colosseum denken doet,
de gladiatoren van de weg in hippe kleuren,
een bruisend sculptuur van keizerskoppen
getooid met in de strijd gedeukte helmen.
Hier slaat de winnaar als een albatros
zijn vleugels uit, hier heerst de daver
van de dag waarop stad en dorp nederig
de hoge hoofden van hun torens buigen
voor wat getaande mannen met hun dijen
tot een feest van kracht en spieren maken.
En het volk: het kijkt gespannen toe
en schreeuwt de namen van zijn goden.
De glans der fietsen meet zich met de zon,
zweet spat op het ruw asfalt uiteen en
uit een woud van wielen wipt hij die
triomfeert en voor eeuwig roem verwerft.
Door de muur
Penerbit: Kannibaal, kota Veurne, 2012
Photo penyair: Stephan Vanfleteren
Desain sampul buku: Johan Jacobs
Photo-photo yang lain: Willie Verhegghe
Tempat finish (1973-2011): Halsesteenweg, Meerbeke (Ninove), Flandria
Pematung: Dierik Potvlieghe
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Langganan:
Postingan (Atom)
















