Minggu, 12 Mei 2013

ERIK HEYMAN (1960 - 2010)




UNTUK NANTI SETELAH KEMATIANKU

Tak seorang tahu kapan saya pernah menulis kalimat terakhirku.
Ketika itu, untuk terakhirnya diri saya mengkhayal
Bahwa saya benar memulai karya saya yang terbaik
Dengan, seperti Hans Andreus, kanker dalam raga saya.

Sekarang saya belum tahu untuk siapa saya akan bersyair
Dan kalimat mana yang akan terdengar di kepalaku
Atau apa yang akan kulakukan setelah kematianku,
Walaupun saya baru saja pada diri saya berjanji

Yang tidak saya mau tahu bahwa itu kata yang terakhir.
Dan saya tidak pernah lagi menceritakan sesuatu yang baru
Kepada istri saya, atau kepada teman, yang waktu itu masih ku kenal.

Karena tahu kematian akan membuat kepiluan:
bagimana, dimana, tak terkenal,tak seorangpun bisa menghitung hari.
Saya hanya berharap bahwa saya masih diri saya sendiri.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars






VOOR LATER NA MIJN DOOD

Wie weet wanneer ik ooit m'n laatste zinnen schrijf.
Wanneer ik, voor het laatst dan, bij mezelf verzin
Dat ik dan echt wel aan een meesterwerk begin
Met, net als Hans Andreus, kanker in mijn lijf.

Ik weet nu niet voor wie ik dan nog dichten zal
En welke woorden ik zal horen in m'n hoofd
Of wat ik, na dat laatste punt verrichten zal,
Hoewel ik daar zoëven aan mezelf beloofd

Heb dat ik niet wil weten dat 't de laatste zijn.
En dat ik nooit meer nieuwe dingen zal vertellen
Aan m'n vrouw, of aan vrienden, die ik dan nog ken.

Want weten dat je sterven zal doet altijd pijn:
Hoe, waar, is onbekend, je kan geen dagen tellen.
Ik hoop alleen maar dat ik dan mezelf nog ben.



Penerbit: De Contrabas, Belanda, 2010
Photo penyair: Eric Beyts
Desain sampul buku: Michel Janssens
Seleksi: Frank Pollet


www.alberthagenaars.nl



Tidak ada komentar:

Posting Komentar