Senin, 18 Februari 2019

RUBEN VAN ROMPAEY - Waktu + Esensi





WAKTU

Seandainya aku bisa menangkapmu
akan aku taruh kamu ke dalam gelas
tetapi kaca yang tembus pandang
dan degitulah Waktu



ESENSI

Keinginan
yang bisa di raih
tetapi tak di angan
dimana harusnya lebih matang
dan yang tak pernah tercipta



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
18-02-2019







TIJD

Als ik je kon vangen
deed ik je in een glas
maar glas is doorzichtig
en zo is de Tijd



ESSENTIE

Zin
valt te grijpen
maar niet in de geest
waar zij nog moet rijpen
en nooit is geweest



Houdbare Oevers
Penerbit: WEL, kota Bergen op Zoom, 2018
Photo penyair: © Albert Hagenaars
Desain sampul buku: Albert Hagenaars
Gambar sampul buku: Gido Hommes



Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl


Kamis, 07 Februari 2019

PHILIP HOORNE - Jilat saya mama





JILAT SAYA MAMA

Saya terlahir terlalu awal
ibuku hampir tak ada waktu untuk mengajariku menangis

selamat tinggal mama ucapanku pada suatu hari
selamat tinggal mama aku terbang

sementara aku terbang kulihat menggelepak celana pendekku
dan sampai kami terkoyak dan akhirnya rusak

dengan telanjang aku terus terbang sampai warna surga
memudar dalam kecantikan yang tak berpesona

dimanakah kamu mama aku berbisik
kapan kamu menjilat mataku yang basah



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
03-02-2019







LIK MIJ MAMA

Ik ben voorbarig geboren
mijn moeder nam amper de tijd om mij het huilen te leren

vaarwel mama riep ik op een dag
vaarwel mama ik vlieg

al vliegende zag ik hoe mijn korte broek en ik flapperden
in de wind tot we rafelden en uiteindelijk scheurden

bloot vloog ik verder tot de hemel verkleurde
in een schoonheid die mij amper kon bekoren

waar ben je mama vezelde ik
wanneer lik je het vocht in mijn ogen



Het dikke meisje en de ziener
Penerbit: In de Knipscheer, kota Haarlem, 2019
Photo penyair: Selfie
Desain sampul buku: Kilian Anders
Gambar sampul buku: Peter Paul Rubens



Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl


BLOG INI


Untuk memperkenalkan puisi bahasa Belanda dalam Indonesia dan Malaysia (di mana 270 juta manusia menggunakan bahasa yang sama) dan, untuk mempopulerkannya, Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars di bulan Maret 2013 memulai dengan blog ‘Suara suara dari utara’. Mereka ingin menterjemahkan dan mempublikasikan puisi berasal dari Belanda dan Flandria (bagian dari Belgia yang mana berbicara bahasa Belanda, 61%).
Di waktu yang akan datang bisa juga puisi dari Suriname dan Antillen (pulau Antillen Belanda) mendapat tempat khusus di weblog ini.
Penterjemah yang lain diperbolehkan untuk bergabung dalam blog ini.




Siti Wahyuningsih



In order to introduce Dutch poetry in Indonesia and Malaysia (the national languages of both countries are quite similar) Siti Wahyuningsih and Albert Hagenaars started a blog with translations in March 2013. The name of this blog is ‘Suara suara dari utara’, which means ‘Northern voices’. Every month at least two poems by Dutch and Flemish authors are published. For a majority of over 6 million people in Belgium, Dutch is the native language. All together, 23 million people in Europe speak Dutch, which is less than 10% of all the people who speak Bahasa Indonesia.



Om Nederlandstalige poëzie in Bahasa Indonesia en dus in Indonesië en feitelijk ook in Maleisië te introduceren (het gaat om een aaneengesloten taalgebied van 270 miljoen mensen) en, zo mogelijk, populair te helpen maken, begonnen Siti Wahyuningsih en Albert Hagenaars in maart 2013 een speciaal met dit doel opgezet weblog. De naam hiervan is: 'Suara suara dari utara', wat zoveel betekent als 'Stemmen uit het noorden'. Het is de bedoeling dat zowel Nederlandse als Vlaamse poëzie door hen wordt vertaald en gepubliceerd.

Klik hier voor een eerste reactie

Senin, 21 Januari 2019

RICHARD FOQUÉ - Kamu duduk di meja bundar





*

kamu duduk di meja bundar
dengan mulut kehijauan
dan jari-jari yang membuat bayangan
yang merasakan kehampaan

kamu meminta untuk membakar
tanda baru di kulitmu
untuk ditiup kata-kata baru
ke dalam mulutmu
untuk menterjemahkan diriku
ke bahasa yang tak terkenal

begitulah kamu duduk di meja bundar
dan meminta stigma yang abadi
dari gambaranku yang lain



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
20-01-2019







*

je zit rond de tafel
met de groene spreekmond
en de schaduwvingers
die de ruimte voelen

je vraagt nieuwe tekens
in je huid te branden
de nieuwe woorden
in jouw mond te blazen
mijzelf te vertalen
in een onbekende taal

zo zit jij rond de tafel
en vraagt het eeuwig stigma
van mijn ander beeld



De dieren komen
Penerbit: De bladen voor de poëzie, kota Lier, 1969
Photo penyair: © Albert Hagenaars, 2012
Desain sampul buku: François Mampaey



Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl


Minggu, 04 November 2018

Y.NÉ - Pintu





PINTU

Kita membangun tembok-tembok
karena ruangan terlalu besar.
Kita membuat pintu-pintu dan jendela-jendela
karena ruangan penting untuk kita.

Kita berbicara karena bahasa memberi
kita sayap-sayap, kebebasan mereka.
Bahasa seperti burung-burung dan ikan-ikan.

Masih sepi pemandangan alam ini, tetapi
pintu telah terbuka: diawali sebuah pertanyaan,
kemudian mulai dengan jawaban.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
04-11-2018







DEUR

Wij bouwen muren
omdat de ruimte te groot is.
Wij maken deuren en ramen
omdat ruimte ons lief is.

Wij praten want taal geeft
ons vleugels, hun vrijheid.
Taal is als vogels en vissen.

Stil nog is dit landschap, maar
de deur is los: begint een vraag,
dan begint een antwoord.



Hier mag niets af zijn. Verzamelde gedichten 1990-2005
Penerbit: De Geus, kota Breda, 2009
Photo penyair: © Albert Hagenaars, 2010
Desain sampul buku: Studio Ron van Room
Gambar sampul buku: Y.Né



Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl


Minggu, 28 Oktober 2018

MARIJKE HANEGRAAF - Pemberhentian sementara di Singapura





PEMBERHENTIAN SEMENTARA DI SINGAPURA

Jam-jam tenang disaat keterburuan belum kembali.
Penumpang yang sementara tak bisa berlanjut, menatap

lewat ikan-ikan yang lelah dalam titik kematian dari pergerakan.
Di atas karpet yang halus terdorong bakat untuk menunggu.

Kesejukan menembus hawa dari luar yang tak aku kenal
hangat dan lembab seperti dalam organ ususku.

Aneh tersesat dalam tubuh
yang membawa pasport dengan informasiku.

Dalam peregangan waktu roti kumakan, botol
kuisi; aku hidup dalam isyaratku.

Samar-samar masih sukacita. Aku telah
di negeri dengan pepohonan dengan bunga merah.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
28-10-2018







TUSSENLANDING IN SINGAPORE

De kalme uren als haast nog niet terugkeert.
Tot stilstand geraakte reizigers starend langs

lome vissen in het dode punt van een beweging.
Over zacht tapijt rol ik mijn talent van wachten.

Door het koele zweemt een buiten dat ik niet ken
warm en vochtig als in mijn organen.

Het is vreemd te dwalen in een lichaam
dat een paspoort draagt met mijn gegevens.

In uitgerekte tijd eet ik een boterham, vul
mijn drinkflesje; ik leef in mijn gebaren.

Vaag nog de vreugde. Ik was
in een land met aan de bomen rode bloemen.



Ergens slapen de anderen
Penerbit: De Arbeiderspers, Amsterdam, 2016
Photo penyair: © Marjolijn Irik
Desain sampul buku: Steven van der Gaauw



Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl


Minggu, 23 September 2018

MARLEEN DE CRÉE - Erbarme dich IX





ERBARME DICH

IX

waktu itu seharusnya tumbang dia tak
tumbang juga, dia terbungkuk, tak perduli
sekuat angin apapun merenggut jiwa keluar
dari tubuhnya, sebanyak apapun. dia terbungkuk

dan membangun tembok-tembok penjaga
lebih tinggi. waktu itu jari-jari terjatuh
tapi bukan hati. kaki-kakinya patah,
pandangannya menjadi gelap dan tajam.

dia tahu: kehidupan adalah tempat tinggal,
sebuah hukum yang tinggi dan
yang rendah dan selanjutnya tak ada.
dia membiarkan kata-kata mengalir,

dan di pucuk dia mendengar ranting-
rantingnya patah. tetapi sementara dia bernyanyi
dalam pohon-pohon lain membungkuk kepala
tertunduk dan bermimpi tentang air.



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
23-09-2018







ERBARME DICH

IX

toen ze moest valken viel ze niet,
ze boog. hoezeer de wind haar
de ziel uit het lijf rukte, hoeveel
ook, ze boog en trok de wallen

van verzet wat hoger. Toen
vielen haar vingers weg maar niet
het hart. de benen braken, haar
blik werd zwart en scherp.

ze wist: leven is een verblijf,
een wet van hoog en laag en later
niets. ze liet de woorden stromen,

hoorde in haar kruin de takken kraken.
maar bij het zingen in andere bomen
boog ze het hoofd en droomde ze van water.






Erbarme dich
Penerbit: P, kota Leuven, 2017
Photo penyair: © Albert Hagenaars
Skulptur arca: Berlinde De Bruyckere
Photo arca pohon: © Mirjam Devriendt
Desain sampul buku: Johan M. Duyck



Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2


www.alberthagenaars.nl