Puisi Belanda di Bahasa Indonesia (272) - Dutch poetry in Indonesian language (272 poems) - Nederlandse poëzie in het Indonesisch
Selasa, 17 Oktober 2023
EDWARD HOORNAERT - Jalan buntu
JALAN BUNTU
Dengan punggung menempel kedinding kami menemukan kedamaian.
Hari-hari menampilkan diri mereka sebagai lereng curam
di mana kita tahu sebelumnya bahwa tak ada imbalan
kapan kita mencapai puncak.
Kita mendaki tetapi gunung-gunung mendaki bersama kita
meninggalkan kita dengan pandangan aspal retak di antara bebatuan.
Waktu meletakkan kurva pada jamnya. Terkadang kita memejamkan mata
memperkirakan jarak sampai malam
dan mendengarkan degub kencang jantung kita yaitu jantung
dari seekor burung yang terjatuh.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
17-10-2023
IMPASSE
Met de rug tegen de muur vinden we rust.
De dagen presenteren zich als steile hellingen
waarvan je op voorhand weet dat er geen beloning wacht
wanneer je boven komt.
We klimmen maar de bergen klimmen met ons mee
laten ons de aanblik van gebarsten asfalt tussen rotspartijen.
De tijd legt bochten in haar uren. Soms slaan we de ogen op
schatten de afstand tot de nacht in en luisteren naar
het zware bonken van ons hart dat het hart is
van een neergestorte vogel.
Weten welke huid je aan moet
Penerbit: P, kota Leuven, 2023
Desain sampul buku: Uitgeverij P
Photo penyair: Uitgeverij P
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Sabtu, 30 September 2023
ALJA SPAAN - Het gesloten huis
RUMAH YANG TERTUTUP
Pak P. ulang tahun. Pertama dia berjalan melewati
kita dan berbalik, ruang terlalu penuh untuknya,
tempatnya telah terduduki dan dia
terlalu sederhana. Kemudian pintu terbuka
kita bernyanyi dan diapun ikut bernyanyi kalau tidak
dia merasa aneh, dia mendapat
penghormatan begitu saja untuk sesuatu yang dia tak
pernah lakukan karena hidup tak terjadi dengan sendirinya
dan terkadang tak dengan sepenuh hati.
Ibu De B. terbungkuk dan dagunya menyentuh
piring di atas kursi rodanya,
dia tak melakukan apapun kecuali
tersedak, sementara Ibu V. memberitahukanku
bagaimana dia menulis contekan di atas paha
telanjangnya dulu. Dia harus
memakai rok ke sekolah. Aku berpikir
pada penulis yang bukunya aku baca untuk mereka,
seseorang yang berkarakter keras
yang mengingat seorang guru yang juling.
Aku merindukannya. Saya suka laki-laki yang pelik,
kata Ibu Z. Semua wanita mengangguk.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-09-2023
HET GESLOTEN HUIS
De heer P. is jarig. Eerst loopt hij langs ons en keert zich af, de
zaal te vol naar zijn zin, zijn plaats bezet en hij
te bescheiden. Dan zwenkt de deur open en zingen wij en hij zingt
mee want anders voelt het raar, anders
krijgt hij zomaar een hulde voor iets dat hij niet deed want leven
gaat niet vanzelf en soms niet van harte.
Mevrouw de B. hangt voorover en tikt met haar kin tegen het bord
op haar rolstoel, behalve verslikken doet zij
niets, terwijl mevrouw V. me vertelt hoe ze haar spiekbriefje op haar
blanke dijen schreef, vroeger. Ze moest
in rok op school verschijnen, vandaar. Ik denk aan de schrijver die ik
voorlees, een dwarse man die zich een
loensende leraar herinnert. Ik mis hem. Lastige mannen, zegt mevrouw
Z., daar houd ik van. Alle vrouwen knikken.
Het langzaam voorovervallen
Penerbit: P, kota Leuven, 2023
Desain sampul buku: Uitgeverij P
Photo penyair: Wouter van der Hoeven
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Rabu, 23 Agustus 2023
BERT BEVERS - Catatan harian dari seorang yang pertama lahir
CATATAN HARIAN DARI SEORANG YANG PERTAMA LAHIR
Sepertinya bertambahnya semua usia aku tetap lebih
muda. Itulah yang aku pikirkan ketika kita membicarakannya
cinta-cinta yang hilang, dan kita memulai tanpa suara
ke sesuatu yang menyerupai tarian. Dengan baik
kita menyadari bahwa kita belum tahu apa-apa. Sekarang
pria-pria lebih kesepian, tapi anak-anak perempuan kita gembira.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
21-08-2023
DAGBOEKNOTITIE VAN EEN EERSTGEBORENE
Het lijkt alsof naarmate alles ouder wordt ik
jonger blijf. Dat dacht ik toen we spraken over
verloren liefdes, en we stil begonnen te deinen
naar iets dat wat weg had van dansen. Goed
beseften we dat we nog niets wisten. Nu zijn
de zonen eenzamer, maar onze dochters vrolijk.
Bedekte termen
Penerbit: Stabilitas Loci, kota Antwerpen, 2023
Desain sampul buku: Marc Kerkhofs
Photo penyair: Daam Noppe
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Senin, 31 Juli 2023
GERY FLORIZOONE - Setelah bertahun-tahun
SETELAH BERTAHUN-TAHUN
Pohon-pohon mengenalku.
Mereka tahu bagaimana hatiku
terbuat dari daun-daun.
Bagaimana akar-akarnya lebih dalam
dari pada semua keheningan.
Bagaimana syair-syair muncul
dalam batang,
terkadang tertulis di atas kulit.
Mereka setiap musim melengkapi
lanskapku.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-07-2023
NA ZOVEEL JAREN
De bomen kennen mij.
Zij weten hoe mijn hart
van bladeren is.
Hoe wortels dieper gaan
dan alle zwijgen.
Hoe gedichten in de kringloop
van een stam ontstaan,
soms op de huid geschreven.
Zij voeren elk seizoen
mijn landschap aan.
Verzamelde gedichten 1973-1986
Penerbit: Den Gulden Engel, kota Wommelgem,1986
Photo penyair: belum kenal
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Selasa, 09 Mei 2023
JAN HANLO - aku menyebutmu bunga-bunga dan lainnya
AKU MENYEBUTMU BUNGA-BUNGA DAN LAINNYA
aku menyebutmu: bunga-bunga
aku menyebutmu: burung murai di fajar
aku menyebutmu: cantik
aku menyebutmu: bunga-bunga narsis di malam
yang membelai angin sepoi
ke arahku
aku menyebutmu: bunga-bunga di malam
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
24-03-2023
*IK NOEM JE BLOEMEN ETC.
ik noem je: bloemen
ik noem je: merel in de vroegte
ik noem je: mooi
ik noem je: narcissen in de nacht
waaroverheen de wind strijkt:
naar mij toe
Ik noem je: bloemen in de nacht
Verzamelde gedichten
Penerbit: G.A. van Oorschot, Amsterdam, 1958
Photo penyair: belum kenal
Desain sampul buku: Helmut Salden
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Sabtu, 01 April 2023
FRANS BUDÉ - Traveler
PELANCONG
Kita berjalan lebih cepat dari bayangan kita,
mengalir menyatu dengan musik sekitar kita.
Aku melihatmu, walaupun kamu terdiam.
Dalam anganku kamu tetap dekat denganku,
meletakkan tanganmu dibahuku dan memelukku
selamanya. Waktu menyertai kita,
mengikat kita. Kita bersembunyi ke dalam musik
untuk tidak tersesat, berbagi ketakutan dan
keceriaan, selalu dalam perjalanan
ke hari yang baru. Di kedalaman waktu,
di balik puncak dari kebahagiaan, terletak
taman-taman di masa lalu, di hadapan kita
terletak kesunyian yang tetap tersembunyi
dalam ladang gersang, angin membawa
sesuatu kesini dari tepi sungai. Biarkan mengatasi
ketakutan kita, menjalin kita dengan indahnya
kehidupan. Musik menarik waktu kembali.
Dengan begitu kita lanjutkan, udara malam
yang dingin menahan nafas, dan lihat,
mekar lagi – sekejab.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
24-03-2023
TRAVELER
We lopen aan eigen schaduw vooruit,
vervloeien met de muziek om ons heen.
Ik zie je, al spreek je geen woord.
In mijn hoofd blijf je dicht bij me, leg je
een hand op mijn schouder en houdt me vast,
een leven lang. De tijd loopt met ons mee,
houdt ons bijeen. We schuilen in muziek
om niet te verdwalen, delen vrees en
vrolijkheid, zijn altijd onderweg
naar een nieuwe dag. In het diepst van de tijd,
achter de hoogste toppen van geluk,
liggen de tuinen van weleer, vóór ons ligt
in uitgestrekte stilte wat verscholen blijft
in braakliggende velden, waait hooguit iets
binnen van de andere oever. Laten we onze angst
bezweren, ons verweven met de volle schoonheid
van het leven. Muziek haalt de tijd terug.
Zo zetten we onze weg voort, de koele
nachtlucht houdt haar adem in, en zie,
het bloesemt weer – heel even.
Zoveel nabijheid
Penerbit: Meulenhoff, Amsterdam 2018
Photo penyair: Riet Dolders
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Jumat, 24 Maret 2023
ALBERT HAGENAARS - Palaran
PALARAN
Pemukul-pemukul mulai, memukul hampir
bersamaan di atas tembaga yang terdoa’kan.
Tangan-tangan memanjang saling mengikuti
di atas lulang yang kencang, bertemu dalam
sebuah irama berabad-abad yang tak bisa terubah.
Penggesek-penggesek memotong
membuka, menarik senar mereka lebih
mendekat, menganyam melodinya sendiri
dengan asal cerita dari kita semua.
Kemudian menjulang pada nada-nada yang
mencari dari seruling-seruling, sampai kedalam
Sansekerta dalam Bahasa Jawa, wanita-wanita tua
yang bernyanyi dengan lengkingan dan mengerti
semua tentang cinta dan kehilangan, pentingnya
dari peraturan dan hukum adat; gadis-gadis remaja
dari tubuhnya mengalami apa artinya mendengarkan.
Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
30-01-2023
PALARAN
Hamers vangen aan, slaan vrijwel
simultaan op gezegend brons.
Verlengde handen vallen in op gespannen
vel, vinden elkaar in een al eeuwenlang
niet te veranderen cadans.
Strijkers snijden zich naar binnen,
trekken snaren steeds verder naar zich
toe, vervlechten eigen melodie
met de oorsprong van aller verhaal.
Dan ontstijgen aan zoekende tonen
van fluiten, tot diep in het Sanskriet
in het Javaans, de snerpend zingende
oude vrouwen die weet hebben van liefde
en verlies, het belang van de regels en wetten;
de meisjes die aan den lijve moesten ervaren
wat luisteren is.
PALARAN
Mallets mark the beginning, striking almost
simultaneously on priest blessed bronze.
Extended fingers join in on stretched
skin, finding each other in a centuries old
unalterable cadence.
String-players cut their way in,
pulling strings ever closer towards
themselves, intertwining their own melody
with the origin of all narration.
Then, to the searching tones
of flutes, down to the depths of Sanskrit
in Javanese, rises the shrill singing
of old women, well-versed in love
and loss, the importance of rules and laws;
girls made to feel on their own bodies
what listening involves.
English Translation: John Irons
Pelgrimsgrond
Penerbit: In de Knipscheer, Haarlem 2022
Photo penyair: Siti Wahyuningsih
Photo sampul buku: Lieke Baartmans
Desain sampul buku: Anders Kilian
Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2
www.alberthagenaars.nl
Langganan:
Postingan (Atom)













